Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Truth or Dare?

Seperti biasa, Minggu sore adalah jadwal kami berkumpul. Sore ini kami menghabiskan waktu di belakang rumahku. Marco membawa beberapa kaleng kue, oleh-oleh dari mamanya. Yummy!
"Jadi, mau ngapain nih hari ini? Please jangan ada yang kerjain tugas, gue lagi mumet!" Anya berteriak sambil menggulingkan badannya di rumput—kebiasaan yang selalu membuat kami gemas.
"Tenang aja, gue juga kok. Gimana kalo kita main aja?"
"Emang lo mau main apa Co, udah mau sore gini."
"Truth or dare! Gimana, asyik gak?" Deg. Dadaku berdegup sangat kencang. Duh, pertanda apa ya? Kenapa aku merasa ada pertanda buruk yang akan terjadi?
"Ta! Lo kenapa diem? Main yuk!" Suara Anya mengagetkanku.
"Ah! I...iya" Jawabku sambil tersenyum.

***

Sore ini Marco mengajak kami bermain. Aku melihatnya melamun. Hm, ada apa ya? Segera kutepis pandanganku ke arahnya. Gawat kalau ketahuan!
"Okay, karena gue yang ngusulin, jadi gue yang nanya duluan ya." Marco berkata dengan tatapan usilnya. Hih, aku tau, ia pasti akan mengerjaiku.
"Yak, Alif, truth or dare?!" Nah, benar kan.
"Hmm aku pilih tantangan deh, namanya juga cowok sejati ..." HUUU, teriakan dari anak perempuan tepat membahana di kupingku. Duh, aku sayang mereka!
"Tantangannya...lo nyebur sana berenang sama ikan!" SIAL, jeritku.
Tawa meledak ketika aku mulai “nyebur”
di kolam ikan Lita yang cukup besar itu. Kalau bukan karena gengsi, gak akan aku mau! Tapi, melihat gelak tawa teman-temanku, aku cukup merasa senang. Ah, apalagi melihat dia tertawa. Aku makin semangat memutari kolam, demi membuatnya tertawa.

“Duh, kamu jadi basah gini. Mau sekalian mandi? Aku pinjemin handuk ya.” Katanya pelan sambil membantuku naik. Wajah cemasnya membuatku ingin mengusap pipinya seraya berkata aku tidak apa-apa.
“Gak papa, udah biasa. Nanti juga kering sendiri.”
“Biarin aja Ta, dia udah biasa nyebur di sungai.” Marco, seperti biasa membuatku menahan gengsi.
“SHIT, liat pembalasanku.” Marco hanya tertawa. Dia memang yang paling usil di antara kami. Namun, berhubung hanya aku dan Marco yang “sejenis” di kelompok ini, aku merasa sangat dekat dengannya. Bro-mance di antara kami sangat kuat. Hih, kenapa aku jadi geli memikirkannya.
Kami melanjutkan permainan—dengan handuk melingkar di badanku. Eit, jangan salah. Aku tadi udah bilas kok. Tenang, aku bukan cowok sejorok itu.

***

Hampir setengah jam, permainan kami masih belum selesai juga. Marco memang punya bakat melawak yang terpendam. Kami tidak habis-habisnya tertawa oleh leluconnya yang tiada henti.
Aku melihatnya tertawa. Seketika ada sesuatu yang berdesir. Ya, aku memang menyukai Alif, hanya beberapa bulan semenjak terbentuk “kelompok” kami yang sekarang ini. Ia termasuk cukup populer di sekolah. Maklum saja, ia ketua osis juga pemain inti tim futsal sekolah. Selama ini aku hanya bisa memendam perasaan tanpa memberitahu ke siapapun. Kami memang membuat kesepakatan dari awal berteman, tidak akan membahas tentang perasaan kami masing-masing. Kesepakatan itu membuatku tertekan sekaligus senang. Kenapa? Karena aku bisa dengan mudahnya bertemu ia setiap hari, bertukar kabar tanpa henti—meski hanya di grup, juga mendapat kesempatan dirangkul olehnya. Ya, sebagai teman.
“Eh, gue punya ide!” Marco membuatku tersentak dari lamunan.
“Apa? Jangan aneh-aneh lagi deh. Gue capek ketawa huhu.” Anya berkata sambil memonyongkan bibirnya. Ah, Anya selalu berhasil membuat kami gemas!
“Kita kan udah mau setahun berteman, gimana kalo kita mulai buka perasaan masing-masing?”
“Maksudnya gimana deh?” tanyaku.
“Jadi, kita saling jujur, ada orang yang kita taksir atau nggga!” Seketika aku langsung menoleh ke arah Alif, menerka-nerka seperti apa ekspresinya. Ia terlihat salah tingkah. Ah, apa ada orang yang dia taksir?
“Hmm boleh! Gue mulai duluan ya!” kata Anya semangat. Sejenak ia menundukkan kepala sambil menutup mukanya. Kami mulai penasaran, apa Anya bisa naksir sama orang?
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Anya belum juga bersuara.
“Cepetan dong Nya!” teriak Marco tidak sabar. Ya, aku yakin, semua yang sedang duduk di sini juga penasaran.
“Orang yang aku suka … GAK ADA! Week”
Anya berteriak kegirangan sambil mencium pipi kami satu per satu. Ya, Anya berhasil membuat kami seperti orang bodoh untuk beberapa detik.
“Dasar lo! Jangan pernah percaya sama Anya!” Alif berteriak sambil tertawa.
“Hahahaha oke guys, Anya sukses mengutarakan perasaannya. Sekarang giliran yang ketawanya paling keras, Alif!” teriak Marco semangat.

***

Alif!
Kata-kata Marco sejenak membuat hatiku berdegup kencang. Duh, bingung. Apa sebaiknya aku utarakan perasaanku ya? Yah, minimal aku bukanlah seorang lelaki pengecut yang tidak berani mengungkapkan perasaannya. Aku menarik nafas,
“Oke, baiklah. Ada seseorang yang aku suka, orang itu ada di sini.”
Wajah teman-temanku berubah dalam sekejap. Aku memerhatikan ekspresi wajahnya. Hm, ekspresi yang tidak bisa ditebak.
“Wow, gue gak tau lo bisa naksir sama cewek…” kata Anya.
“Jangan-jangan orangnya lo lagi Nya!” sahut Marco usil.
“Hm, aku sih gak ada tujuan apa-apa, cuma mau bilang kalo aku sayang sama dia semenjak beberapa waktu ini. Kalo dia juga sayang, baru deh ditembak. Hahaha.”
“Dasar lo, gak mau rugi!” Marco memukul lenganku. Aku tertawa kecil. Duh, ternyata mau bilang sayang sama cewek itu susah!
“Cepetan dong, gue penasaran …” kata Anya.
“Oke, hmm jadi …”

***

“Oke, hmm jadi …”
Alif mulai mendekati tempatku duduk. Ya, kami semua memang duduk di atas rumput. Kembang api mulai meledak di dalam hatiku. Astaga, inikah yang namanya dreams come true?!
“Ta, jujur, aku sayang sama kamu…”
Seketika ombak bergemuruh menerjang hatiku yang tadi sedang dimabuk asmara. Aku mendengar Alif mengutarakan perasaannya, aku juga melihat Alif memandang Lita yang duduk di sampingku. Kata “Ta” yang ia ucap bukan untukku, Nata, melainkan untuk Lita.
Cewek itu terlihat malu-malu, mukanya memerah seperti kepiting rebus. Aku merasakan hunusan pedang tepat menusuk jantungku. Alif memandang penuh harap ke arah Lita, sahabatku yang cantik dan anggun.
“Lita, terus gimana perasaan lo?” aku melihat Anya bertanya dengan senyuman nakalnya. Ah, rasanya aku tidak mampu mendengar apa yang akan Lita ucapkan.
Hening sejenak.
“E…maaf tapi Lita lagi gak suka sama siapa-siapa, termasuk kamu Lif. Lita sayang kalian semua. Kalian teman terbaik yang pernah Lita punya.”
Aku mendengar ucapan Lita dengan mata terpejam. Hah, Lita gak suka sama Alif! Yay! Aku tersenyum sambil memeluk Lita. Tak kusangka, Anya juga ikut. Kami berpelukan cukup lama.
Marco tersenyum, “Udah deh, cewek emang suka lebay.” Kami memandangnya, kemudian memeluk Marco, lelaki yang selalu membuat tawa di antara kami.
“Jadi, gimana perasaan lo Lif?” Tanya Anya.
“Gak papa, aku lega karena Lita udah tau, hehe.” Alif tersenyum kecil. Aku tau, jauh di lubuk hatinya, ia patah hati.
“Oke lanjut ya! Nah, Nata, lo ada naksir seseorang gak?” pertanyaan Marco membuatku terdiam sejenak. Apa yang harus aku lakukan?!

***

“Aku…aku suka sama Alif.” Nata berkata sambil menutup wajahnya.
Aku terkejut. Nata suka sama aku?!

***

Aku melihat Nata masih menutup wajahnya, mungkin ia masih terlalu malu. Aku berbalik mengarahkan pandangan ke Alif, cowok yang barusan menyatakan perasaanya padaku. Mukanya memerah, aku tidak bisa menebak ekspresi apa yang terlukis di wajahnya.
Dalam hening, Alif menatapku. Dengan cepat aku membuang muka. Ketika aku melihatnya lagi, ia sedang menunduk.
“Maaf, kalau itu membuatmu gak nyaman. Sudah ya, aku mau pulang dulu.” Nata berkata pelan lalu meninggalkan kami tanpa basa-basi. Aku hendak mengejarnya ketika Anya menarik tanganku. “Biarin aja dulu Ta.”
“Hm, tiba-tiba perut gue laper. Gue balik dulu ya, mau cari makan.” Kata Marco.
“Co, aku ikut.” Alif dengan cepat mendorong tubuh besar Marco dan meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun. Marco berbalik memandangku sambil memberi isyarat maaf dengan kedua tangannya. Aku mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Lita, menurutmu, apa kita semua masih akan berteman seperti biasa?” Tanya Anya. Suaranya serak, tanda air matanya akan tumpah sebentar lagi.
“Lita juga gak tau Nya…” kataku sambil memeluk Anya. Kami berpelukan dalam diam. Isak tangis terdengar, baik dariku atau Anya.


-Fitri Fazrika Sari-


Rabu, 03 Juni 2015

Setitik Warna Merah Muda

Sampai detik ini, aku tidak menyangka. Pelajaran kesenian yang sangat aku benci mempertemukanku dengan dia, kisah yang akan aku tulis saat ini.


Seperti biasa, hari itu kelas sangat gaduh. Kami sedang mengundi nama-nama kelompok untuk tugas kesenian dari Bu Ina. Aku duduk dengan tenang sambil meneguk pop ice yang kubeli saat istirahat. Aku benar-benar tidak tertarik untuk ikut membuat kegaduhan di depan kelas. Sejujurnya, aku tidak suka pelajaran kesenian. Ya, aku memang tidak memiliki bakat seni. Ah, sebagai tambahan, hal yang tidak aku sukai adalah pengerjaan tugasnya yang cukup menyita waktu. Huh.

Kelompok telah terbagi. Aku bersama tiga orang lainnya duduk di ujung kelas, membicarakan apa-apa saja yang diperlukan untuk tugas kelompok nanti. Keputusan telah dibuat, malam ini kami akan mengerjakan tugas di rumah Sekar. Uh, semoga tugas ini cepat selesai, jeritku dalam hati.


Malam hari, di rumah Sekar.
Aku melihat ia yang baru sampai. Wajahnya segar, menyiratkan ia baru saja mandi. Ia duduk di sampingku sambil membuka jaketnya. Aroma harum tercium jelas di hidungku, Hm, wanginya enak! Dia menyapaku dan bertanya apa yang harus ia kerjakan. Aku tersenyum kecil sambil membagi tugas kelompok malam itu.

Pengerjaan hari kedua, saat pulang sekolah.
Aku sebal. Aku adalah tipe orang yang tidak bisa bekerja dalam suasana panas. Ini adalah waktu pulang sekolah. Waktu di mana aku berubah menjadi monster kusut yang lumus. Bibirku mengerucut sambil mengelem sekumpulan origami.
Tidak kusangka, ia menyodorkan susu strawberry kesukaanku, lengkap dengan setengah es batu di dalamnya, persis seperti yang selalu aku pesan di kantin. "Nih minum dulu. Kalo marah-marah nanti cepat tua" katanya sambil menyengir. Aku tersenyum kecil, "Makasih"

Pengerjaan hari ketiga, malam hari di rumahnya.
Aku sedikit kikuk. Ternyata, teman sekelompokku yang lain belum ada yang datang. Ia mempersilahkan aku untuk masuk. Sofa di ruang tamunya cukup empuk, tapi tidak cukup nyaman untuk menenangkan diriku yang sedang canggung. Ah, aku kenapa sih!
Aku duduk di sofa ketika ia sibuk menemani adik kecilnya bermain. Hm, sejujurnya, aku sangat suka pada laki-laki yang bisa dekat dengan anak kecil. Sebuah sikap kecil yang menurutku romantis.
Tak lama, ia duduk di sampingku. Awalnya terasa canggung, tapi, lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kami bercerita hal-hal sepele hingga masa depan. Aku tidak pernah merasa semudah itu terbuka dengan seseorang. Ia hampir meraih tanganku ketika Raka mengetuk pintu rumah. Kami saling membuang muka, berusaha mendatarkan ekspresi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah tiga hari berturut-turut mengerjakan tugas, kami memilih melanjutkannya hari Minggu nanti. Tugas itu akan dikumpul hari Selasa depan, kami masih punya banyak waktu.
Kalau begitu, bagaimana kelanjutan kisahku? Hehe, sejujurnya, kami mulai intens bertukar kabar di BBM. Sikapnya begitu manis. Aku, aku tidak tau perasaan apakah ini. Yang jelas, aku menikmati setiap hal yang berkaitan dengannya.

Hari Minggu, kami mengerjakan tugas di rumahku. Finally, we did it! Tugas selesai sebelum waktu dikumpulkan. Aku sangat senang, satu beban tugas telah terlewati. Satu per satu teman sekelompokku mulai pulang, kecuali dia.
"Kinan," katanya pelan.
"Hm?" jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Aku masih sibuk membereskan sisa-sisa pekerjaan kami yang masih berantakan.
"You have to know something about us" Aku menoleh dan menghentikan kesibukanku. Duh, kenapa aku jadi berdebar gini sih?
"Then, tell me ..."
"I think I love you, Kinan. Setelah apa yang kita lakukan beberapa waktu ini, aku ngerasa nyaman berada di dekatmu" Wajahnya memerah, tanda ia sedang mengungkapkan sesuatu yang membuatnya merasa malu.
"Then, how about your girlfriend?" Aku melihatnya menunduk. Matanya berusaha mencari-cari jawaban atas pertanyaan yang baru saja aku lontarkan. Aku membuang pandanganku ke dinding, berusaha mengira-ngira jawaban apa yang akan ia katakan.
"Maaf, tapi aku juga gak bisa ngelepas dia gitu aja Kinan. Tapi, tapi aku juga gak bisa membohongi perasaan aku. Aku, aku sayang sama kamu." Aku menghela nafas panjang. Aku tau, hal ini pasti akan terjadi. Anehnya, aku tidak marah. Maksudku, ya, mungkin kita emang gak ditakdirkan untuk berdua. It's not meant to be aja gitu.

Lalu, apa yang terjadi?
He admits that he loved me, he apologized, then, he finally had to leave me for his past. Perasaanku campur aduk. In one side, I'm happy for him. He deserve someone whose better than me. He doesn't have to broke his relationship which much better than ours. Kami, tidak perlu terlalu jauh menyakiti hati masing-masing dengan melanjutkan kisah ini. Entahlah, mungkin ini kisah PHP yang not really PHP.
Menyesal?
Enggak sih, Aku gak ngerasa nyesal karena  pernah punya cerita yang belum apa-apa udah harus tutup buku. Mungkin, dia datang hanya untuk memberi setetes warna pada langit harapanku. Mungkin, orang lain yang akan menyelesaikan pewarnaan langit itu. Langit yang akan aku pajang kepada anak cucuku kelak, langit kisah cintaku dengan sang jodoh di suatu hari nanti.


-Fitri Fazrika Sari-

Selasa, 02 Juni 2015

Berjuang?

Selamat pagi Haris. Walaupun ini hari Senin, aku harap kamu tetap semangat bangun pagi ya. Selamat atas kemenangan tim kamu di pertandingan semalam! :)
Pesan singkat itu membangunkan Haris yang sedang terlelap. “Ah sial, masih jam 5 pagi. Cewek itu benar-benar pengganggu” katanya sambil bersungut seraya berjalan mengambil handuk.

Selamat malam Haris, how’s your day? Aku lihat kamu tadi dihukum Pak Roy ya? Makanya, jangan malas kerjain tugas :p
Dia lagi, dia lagi. Haris mulai merasa kesal. Sejak tiga bulan terakhir, cewek yang bernama Windy terus-menerus mengiriminya pesan singkat. Pagi, siang, malam, cewek itu tidak pernah absen mendatangi dirinya lewat SMS. Ada hari di mana cewek itu tidak mengiriminya pesan sama sekali. Ah, mungkin pulsanya habis.

Selama tiga bulan itu pula, Windy tidak mendapat satu pun balasan. Ada kalanya ia merasa jenuh, apa yang dilakukannya percuma. Ia bisa menangis seharian penuh, menunggu, apakah Haris akan mencarinya. Kenyataannya? Tidak. Haris tidak pernah mencarinya. Kemungkinan yang lebih buruk? Mungkin Haris tidak pernah tahu, mana cewek yang bernama Windy.

Selamat pagi, hari ini kamu udah sayang sama aku belum?
Haris mengerutkan keningnya beberapa saat. Wah, akhirnya ada kata “sayang” di pesannya. Sejenak ia berpikir, kemudian mengetik.
Belum.
Windy sedang mengemaskan tempat tidurnya ketika handphone-nya berdering. Itu nada khusus untuk Haris! Apa dia membalas pesanku?! Dengan cepat ia mengambil hp dan membuka pesan. Ah, lengkung indah nampak jelas di bibir mungilnya. Ia mulai mengetik.
Yaudah, besok aku tanya lagi.
HAH? Haris tertawa kecil. Bisa juga ini anak, katanya dalam hati.
Oke. Awas ya nggak ditanya.
Aku gak pernah bosan kok nanya hal itu ke kamu.
Kalau aku gak akan pernah sayang gimana?
Windy mengehela nafas dengan panjang. Bagaimana jika Haris memang tidak akan pernah sayang sama aku ya?
Terserah sih. Aku yakin, suatu saat kamu bakal ngerasain gimana rasanya disaat kamu sayang sama seseorang, tapi orang itu gak sayang sama kamu.
Haris tertegun. Bagaimaiana jika itu terjadi? Ah, sudahlah. Ia tak lagi berminat untuk membalas pesan Windy.


Tiga hari semenjak hari itu. Windy tidak pernah mengiriminya pesan lagi. Apakah Haris sadar? Oh, tidak. Dia bahkan sama sekali tidak ingat, siapa yang membiasakannya untuk bangun setiap jam 5 pagi.

Dua minggu semenjak hari itu. Windy belum juga mengiriminya pesan. Haris mulai bertanya-tanya dalam hati, eh dia ke mana ya?

Minggu pagi, satu bulan semenjak hari itu. Haris bangun dengan perasaan hampa. Hampir setengah jam ia memandangi hp-nya, menunggu sebuah pesan yang biasa ia terima. Layar itu tetap gelap, tanda tidak adanya notifikasi apapun yang masuk. Aargh! Aku kenapa sih!

Dua bulan semenjak hari itu. Haris sedang berjalan sendirian mengelilingi taman kota, tempat ia biasa melepaskan penatnya. Ia berjalan tanpa arah, pandangannya kosong, pikirannya penuh sesak. Ia terus berjalan dengan kepala melihat ujung kakinya. Ketika tersadar, ia sudah menabrak seseorang. Kertas berhamburan di udara. Terdengar suara wanita sedang meringis. Astaga! Apa yang aku lakukan! Haris dengan sigap mengumpulkan kertas yang sedang berlari tiada arah. Ketika ia selesai, didapatinya wajah yang selama ini mengusik ketentraman batinnya.


“Kamu sekarang jauh ya,” Haris membuka percakapan mereka sore itu.
“Bukannya kamu yang berusaha menjauh?” Windy tampak tenang, sambil sesekali menyibak rambutnya, menunggu Haris kembali bersuara.
“Hmm, oh ya?” Haris tampak kikuk. Ya, ia sama sekali tidak bisa menebak, seperti apa sikap Windy sekarang.
“Terlalu senang dikejar ya, sampai lupa kalau aku udah berhenti sejak jauh hari?”
“Tapi, kamu kan yang mulai duluan”
“Aku selalu berusaha, tapi kamu gak pernah menghargai usaha aku. Sekarang, perasaan aku udah pergi Ris”
“Gak mau kembali ke belakang? Aku masih di sana Win”
Jeda panjang. Windy dan Haris sibuk bergumam dengan pikirannya masing-masing. Waktu seakan berhenti berputar. Matahari mulai terbenam ketika akhirnya Windy membuka suara.
“Kenapa? Nyesal?”
“Penyesalan datangnya selalu belakangan, Win” Haris menunduk. Sepertinya ia mulai menyadari, seperti apa Windy sekarang. Ia menoleh ke arah Windy. Wanita cantik itu sedang menunduk, sibuk memelintir ujung roknya yang selutut. Matahari benar-benar akan terbenam, burung-burung mulai ramai di angkasa, sibuk berlomba untuk sampai ke rumahnya. Saat itu juga Haris melihat segurat warna jingga di wajah Windy. Jingga yang menggambarkan terbenamnya sang surya, tepat seperti hati Windy yang tak lagi mau menampakkan sinarnya. Sesaat kemudian gelap, bulan menggantikan matahari yang telah terbenam sempurna.
“If you were not there, my life would not be like this. Makasih udah buat aku ngerasa dicintai dengan tulus, Win” Windy menoleh, suaranya serak, menahan isak tangis yang siap meluncur dari kedua bola matanya yang indah.
“Makasih juga Ris. Karena kamu, aku tau, ternyata berjuang tidak sebercanda itu”. Windy mengemasi barangnya, kemudian pergi meninggalkan Haris tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Haris mendongakkan kepalanya ke langit. Bulan menyambutnya bersama jutaan bintang langit yang berpijar. Win, seperti mentari yang akan datang lagi esok hari. Aku harap, kamu sudi kembali memancarkan kasih sayangmu lagi. Jika bukan besok, mungkin beberapa tahun lagi.



-Fitri Fazrika Sari-
sedikit banyak dikutip dari percakapan grup kelasku, tweesco. thank you all!

Selasa, 12 Mei 2015

Kisah Kita

Aku udah nyampe. Kamu di mana?
Pesan singkat yang baru saja aku terima membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Dengan pelan aku poleskan lagi lipstik yang sudah berulang kali kuhapus. Aku berputar-putar di depan cermin, meneliti dengan cermat apa ada hal yang tidak beres dengan pakaianku hari ini. Aku menarik nafas panjang, yah, inilah saatnya.

Aku melihat wajahnya dari kejauhan. Ah, dia memang tampan.
"Kei? Ah, maaf, kamu sampai duluan ya? Udah lama?"
"Ah ngga kok, baru aja masuk hehe". Aku berusaha memberikan senyum terbaikku. Tapi, kenapa dia tidak tersipu? Apa lipstik yang aku pakai terlalu menor? Atau parfumku yang kurang enak? Beribu pertanyaan muncul dalam sekejap di kepalaku.
"Kei? Pintunya udah dibuka tuh"
"Ah? Iya, iya". Rasa panas mengalir di sekujur mukaku. Memalukan.

Untuk pertama kalinya aku duduk bersebelahan dengannya, dia yang sejak dua bulan ini mencuri hatiku. Sorot matanya yang teduh, badannya yang tinggi, juga kacamata yang membuatnya nampak lebih dewasa memang menyita perhatianku. Lebih dari itu, ia adalah seorang pemimpin kelas yang disegani. Di luar sekolah, ia adalah pemain bola yang cukup tangguh. Aku suka melihat ekspresinya ketika berhasil menembakkan gola ke gawang lawan. Aku suka luapan bahagianya ketika ia berhasil membawa kemenangan bagi timnya. Juga, saat kakinya cedera atau timnya kalah, rasanya aku ingin berlari ke tengah lapangan, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Setengah jam berlalu, aku mulai fokus pada film yang sedang ditonton. Seru juga menonton film petualangan seperti ini. Sesekali aku teriak, merengut, juga menutup mataku ketika tokoh utama bertemu dengan lawannya. Aku lupa, kalau aku tidak menonton sendirian.
"Kei?" bisik Andra.
"Hm?" kataku tanpa menoleh ke arahnya. Ya, aku sedang sibuk menutup mata dengan tanganku. Tokoh utama sedang berjuang melawan musuh.
"Coba liat sini". Aku melihat ke arahnya dengan masih menutup mata.
Ia meraih tanganku.
"Senyum deh". Aku tersenyum malu sambil menatapnya.
"Nah, kan cantik". Katanya pelan sambil tersenyum.
Belum sempat aku menjawab apa-apa, ia sudah kembali memutar badannya ke arah layar. Aku juga kembali menatap layar, tapi pikiranku sudah terbang ke langit. Aku menggigit bibirku sambil tersenyum. Ah senangnya!


Hiruk pikuk stadion tidak menyurutkan mataku untuk mencarinya. Ya, hari ini adalah pertandingan final sepak bola antara sekolahku dan SMA Nusa. Aku tau, ia masih menjadi kapten di pertandingan kali ini. Dengan semangat aku ikut meneriakkan yel-yel sekolah kami. Meski dalam hati, aku ingin sekali meneriakkan namanya seperti teman-teman yang lain.

Peluit tanda dimulainya pertandingan telah berbunyi panjang. Ah, itu dia! Memakai pita di lengan, menandakan seorang kapten bagi sebuah timnya. Mataku tidak berhenti terfokus ke arahnya. Selang beberapa menit, matanya bertemu dengan mataku. Segera aku melambaikan tangan sambil tersenyum ceria. Kemudian? Dia membalas senyumanku! Aku tidak peduli ada ratusan siswa lainnya yang meneriakkan kata semangat untuk tim kami. Aku yakin, ia tersenyum tepat saat matanya tertuju ke arahku. Kembali aku menggigit bibir sambil tersipu malu. Aku benar-benar menyukainya!

Pertandingan usai. Andra berhasil membawa timnya menuju kemenangan. Aku ikut melompat kegirangan bersama ratusan suporter dari sekolahku. Andra, you did it!


Andra mengajakku ke sudut stadion yang tidak terlalu ramai.
"Andra, selamat ya! Aku udah bilang kan dari awal, kita pasti menang!" kataku antusias sambil tersenyum lebar.
"Hehe thank you Kei, ini semua karna kerjasama tim yang baik kok." Andra tersenyum.
Aku baru saja membuka mulutku, tiba-tiba Andra bersiap untuk pergi.
"Loh? Mau pergi?" kataku sambil mengeluarkan wajah cemberut. Biasanya, Andra akan luluh jika aku memasang ekspresi seperti ini.
"Ada yang mau ngomong sama kamu Kei."
"Loh? Siapa?"
Andra menunjuk ke belakang kepalaku. Aku berbalik badan, ada Rio yang sedang tersenyum.
"Hmm, okedeh. Nanti malam kita jadi kan makan kebab?" kataku riang.
"Liat nanti deh".
Aku heran, kenapa Andra jadi jutek gitu sih? Ah, mungkin dia lelah.

"Hi Rio! Congrats buat kemenangan kalian ya!" kataku sambil menjabat tangannya.
Tunggu, kok tanganku ga dilepas sih? Aku menunggu. Satu menit, dua menit, tidak ada tanda-tanda Rio akan melepaskan genggaman tangannya. Aku mulai risih.
"Yo?" kataku pelan.
"Kei, maaf kalau tiba-tiba. Tapi, aku ...". Rio menarik nafas panjang. Kalimatnya digantung. Situasi ini membuat aku semakin risih. Segera aku menarik tanganku dari genggamannya.
Rio menarik lagi tanganku, kemudian ia berlutut.
"Kei, udah sebulanan ini aku selalu memperhatikan kamu. Suara kamu, mata kamu, kepintaran kamu, semuanya buat aku jatuh cinta sama kamu. Would you like to be my queen, my dearest Keisha?".
Aku tersentak.
"Aku tau ini terlalu cepat. Tapi, kenapa gak dicoba aja dulu? Aku yakin, aku bisa jadi yang terbaik buat kamu Kei".
Aku membuang muka. Rasanya terlalu aneh. Dinyatakan cinta oleh seseorang yang sama sekali tidak "terlihat" di mataku. Aku, aku bingung mesti menjawab apa.
Sepertinya Rio mengerti maksudku. Ia melepas genggaman tangannya dan kembali berdiri. Dengan lembut ia mengusap kepalaku.
"Gak papa Kei, aku tau kamu pasti terkejut. I just want to let you know that I love you. Hmm, sampai ketemu besok ya. Boleh aku jemput?" Rio berkata dengan sangat lembut. Wajahnya penuh pengharapan. Karena tidak tau harus menjawab apa, aku hanya mengangguk. Rio tersenyum lebar kemudian membalikkan badannya, pergi meninggalkan aku yang masih terdiam.


Aku duduk berhadapan dengan Andra di tempat biasa kami makan kebab. Tidak seperti biasanya, malam itu ia lebih banyak diam.
"Andra, ngomong dong. Ya kali aku terus yang cerita. Kamu capek? Apa sebaiknya kita pulang aja?"
"Loh, jadi mau pulang? Aku baru 15 menit yang lalu nyampe Kei. Yaudah kalo kamu maunya gitu.", jawab Andra ketus.
"Ih itu kan baru saran. Kamu aneh deh malam ini." sahutku kesal. Andra kembali diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Aku semakin merasa bersalah.
"Kei, tadi siang gimana?" suaranya sangat pelan, hampir saja aku berkata "hah". Untung gak jadi, kalo iya, bisa makin ngambek deh si Andra.
"Hmm, apanya yang gimana?" tanyaku heran.
"Rio", katanya datar sambil menatap tepat di mataku. Tiba-tiba dadaku serasa dihunus oleh pedang yang sangat tajam. Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam pikiranku.
"Yaa, gak kenapa-kenapa sih", jawabku berusaha santai. "Emang kenapa?"
Andra terdiam, wajahnya menunduk sibuk merapikan kemejanya yang tidak perlu dirapikan. Aku menunggu, jawaban apa yang kira-kira akan diucapkannya. Ah, situiasi seperti ini benar-benar membuatku muak.
"Kei, mulai malam ini dan seterusnya, aku gak bisa dekat lagi sama kamu. Aku, aku akan berhenti mengirimimu pesan secara intens." katanya pelan.
Aku tersentak. "Kenapa? Aku rasa, selama ini tidak ada masalah apapun".
"Kita harus menjauh Kei"
"Ya kenapa kita harus menjauh? Bukannya selama ini kita berteman dengan baik? Kenapa tiba-tiba ...", belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Andra memotong dengan suaranya yang keras.
"Karna Rio suka sama kamu!". Suara gelegar Andra tidak hanya membuatku terdiam, tapi juga membuat hening para pengunjung lainnya. Tak lama, mereka kembali bersuara. Mungkin ingin memberi kami waktu untuk menyelesaikan masalah ini berdua. Masalah? Apakah ini sebuah masalah? Ada hubungan apa aku dengan Andra, hingga semua ini disebut "masalah". Kami hanya teman yang beberapa bulan ini menjadi dekat. Kami hanyalah teman yang rutin bertukar kabar setiap hari, telponan di malam hari, juga jalan di hari libur, baik sekadar makan atau mengerjakan tugas. Tunggu, apakah kami sudah sedekat itu? Lalu, hubungan apa ini namanya? Aku terhenyak.

Aku tidak tau berapa lama kami saling berdiam diri. Yang aku tau, pengunjung mulai meninggalkan tempat ini satu persatu. Angin malam mulai terasa, tanda hari sudah semakin larut. Batinku benar-benar tersiksa.
"Keisha, maaf." kata pertama yang terucap yang dari mulut Andra setelah sekian lama menunggu.
"Aku, aku gak tau kenapa Rio yang menyukai aku menjadi alasan kita tidak boleh menjadi dekat lagi.", kataku hati-hati.
"Karena aku sayang sama kamu.". Kalimat itu, kalimat yang selalu aku tunggu sejak dua bulan yang lalu. Kalimat yang selalu aku tau jawabannya dengan pasti. Ya, aku juga sayang kamu Andra.
Belum sempat aku menjawab, Andra bersiap melanjutkan kalimatnya. Aku mulai menggigit bibirku sambil tersenyum malu.
"Karena aku sayang sama kamu, aku gak mau kita dekat lagi Kei. Semenjak aku tau Rio suka sama kamu, aku mulai berpikir untuk menjauhi kamu. Ketika Rio sudah mengatakan kalau dia suka sama kamu, aku benar-benar akan menjauhi kamu, Kei."

Lima menit semenjak Andra mengucapkan kalimatnya, aku masih diam. Aku berusaha menahan tajamnya hunusan pedang yang menusuk jantungku. Aku berusaha mengendalikan derasnya ombak yang akan jatuh dari pelupuk mataku. Aku berusaha menahan jutaan halilintar yang akan keluar dari mulutku. Aku masih berusaha mengendalikan diri, agar Andra tidak membuatku hancur.

Sepuluh menit kemudian, hunusan pedang, ombak, dan halilintar yang bergemuruh tidak lagi aku rasakan. Aku tidak lagi merasa sakit, tidak lagi ingin menangis, juga tidak lagi ingin berteriak. Seluruh asaku kini telah mati. Rasanya, sekarang aku lebih dari sekadar kata hancur.

Lima belas menit kemudian, aku mulai bersuara.
"Aku, sangat sayang sama kamu. Udah dua bulan aku tersadar kalo aku benar-benar suka sama kamu. Entah udah berapa bulan aku mulai tertarik sama kamu. Jika kita saling mencintai, kenapa tidak bersatu?", suaraku bergegar. Ternyata bicara tidak semudah itu. Rasa yang tadi telah mati kembali hidup. Tepat di detik kesepuluh setelah kata terakhir yang aku ucap, aku menangis. Tangisan yang aku tidak tau artinya apa. Aku hanya tau bahwa perasaanku kini telah berserakan.
"Karena aku tidak akan tega menghancurkan perasaan sahabatku, Kei. Salahku yang dari awal tidak terbuka dengannya, kalo aku suka sama kamu. Sampai pada akhirnya, bulan lalu dia cerita kalau dia naksir sama kamu. Aku, aku bingung Kei"
Aku mendengarkan dengan cermat tiap kata yang terucap dari mulutnya. Ah, Andra memang lelaki yang baik. Aku tidak menyangka, ia akan mengorbankan perasaan demi sahabatnya sendiri, yang berujung juga menyakiti perasaanku sendiri.
"It's okay Ndra. Aku senang ternyata kamu membalas perasaan aku". Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Andra meraih kepalaku dan menyenderkan di bahunya. Tak butuh waktu lama, tangisanku kembali terdengar. Andra hanya diam, tangan kanannya mengusap kepalaku dengan lembut. Tangan kirinya menggenggam kedua tanganku dengan erat. Malam itu kami membisu bersama langit. Tak banyak bintang yang berpijar di atas langit Sungai Kapuas tempat kami berlabuh. Semuanya terasa hening dan gelap, sama seperti perasaan dua insan yang tak bisa bersatu meski ingin menyatu.

Minggu, 24 Februari 2013

Anugerah Terindah


        Aku tersenyum menatap cermin besar di hadapanku. Aku memakai mini dress berwarna biru muda, heels setinggi 10cm, juga tak lupa memoleskan sedikit lipstick berwarna merah muda. Sempurna, pikirku malam itu. Dengan cepat aku turun ke bawah sambil memegang kunci mobil. Tak kuhiraukan panggilan Ayah yang sedang berada di ruang tamu. Tidak berguna, pikirku.
       
        Aku pulang sekitar jam 4 pagi. Aku masih ingat tangisan Ibu yang melihat kondisiku semalam, juga Ayah yang terus mengomeliku sebelum akhirnya aku mendobrak pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Aku benci dengan sikap mereka yang terlalu berlebihan mengawasiku. Aku semakin terbuai dalam alam pikiranku sendiri, hingga akhirnya tidak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol tadi malam.

        Sebenarnya, aku malas pergi sekolah hari ini. Namun, ancaman Ayah yang akan menyita mobil jika aku bolos berhasil membuatku mengalah. Aku pergi diantar Ayah, karena ia tidak ingin aku mencoba kabur dari sekolah.
        Aku datang tepat lima menit sebelum bel pelajaran pertama dimulai. Sebagian anak menatapku dengan tatapan aneh, entah apa itu maksudnya. Tapi aku tidak peduli, aku tidak ingin mencari apapun disini. Aku hanya tidak ingin Ayah menyita mobilku. Ketika aku sedang termenung, seseorang menepuk pundakku. “Citra, kamu ketinggalan banyak tugas. Mau pinjam catatan saya?”, tanya Laila teman sebangkuku. Aku saja hampir lupa namanya jika ia tidak menyapaku duluan. “Biarkan saja, aku tidak peduli dengan nilai, tugas, atau apapun itu!” sahutku ketus kemudian kembali asyik dengan iPad terbaruku. “Kamu itu pintar, sayang jika nilai kamu rendah. Saya boleh kerumahmu?”. Sejenak aku mengalihkan pandangan kepada Laila yang duduk di sebelahku. Ia masih tersenyum kepadaku, senyum yang sangat indah. Sejenak aku terdiam. “Kenapa? Saya hanya ingin membantu, tidak lebih. Boleh ya?” sekali lagi Laila tersenyum kepadaku. Bibirku kelu, entah mengapa aku terpesona olehnya. Akhirnya aku menganggukkan kepala kemudian kembali asyik dengan iPad. Kulihat senyum Laila yang mengembang disaat aku menatapnya sekilas.

        Ibu sangat senang melihat kedatangan Laila ke rumah. Selama ini memang tidak satupun teman-teman sekolahku yang pernah ke rumah. Pernah sekali, itupun karena aku sudah dalam kondisi luka-luka akibat berkelahi dengan kakak kelasku waktu itu. Sungguh buruk.
        Laila meminjamkan catatannya, katanya boleh kupinjam sampai akhir minggu ini. Diam-diam aku kagum, tulisan Laila sangat rapi, rumus penting digarisnya dengan pulpen warna-warni. Sementara aku? Kotak pensil dan segala perlengkapannya saja baru dibelikan Ibu tadi siang, karena tau Laila akan ke rumah. Dengan sabar Laila mengajariku sejak lepas magrib, hingga tak terasa sudah jam 9 malam. Aku gelisah, sepertinya Laila merasakan hal tersebut. “Kenapa? Citra capek ya? Maaf saya terlalu bersemangat.” Laila berkata dengan wajah bersalah. “Bukan, tapi aku mau pergi. Nanti telat”. “Sudah jam segini mau kemana?” Laila menatapku heran. “Lanjutkan saja Laila, ia hanya ingin pergi dengan teman-teman nakalnya itu. Masih syukur ia ingat untuk pulang.” Ibu tiba-tiba muncul sambil membawakan teh hangat dan kue untuk kami. Aku sangat kesal dengan perkataan Ibu. Dengan cepat aku berlari ke kamar dan berganti baju. Aku mengambil kunci mobil dan segera keluar. Tak ku hiraukan teriakan Ayah yang memanggilku untuk masuk. Aku tidak peduli, kupacu mobilku dengan cepat hingga tiba-tiba semua terasa gelap.

        Aku terbangun dengan selang infus menancap di tangan kiriku, kurasakan tangan kananku tidak bisa bergerak. Bau obat sangat menyengat hidungku. Spontan aku berteriak keras. Ayah dan Ibu berlari mendekatiku, kulihat mata Ibu sembab. “Citra kenapa sayang? Sakit?” Ayah berkata sambil mengusap rambutku dengan lembut. “Aku kenapa? Tanganku sakit sekali Ayah!” kataku sambil menangis. “Kamu kecelakaan nak, tangan kananmu patah.” Ibu berbisik ke telingaku dengan lembut. Aku terdiam, satu yang kurasakan hanyalah perih di sekujur tubuhku.
        Sudah 4 hari aku berada di rumah sakit. Rasa bosan dan penat mulai aku rasakan. Aku juga kesal terhadap teman-teman baikku di diskotik. Tidak ada satupun yang datang menjenguk. Ketika aku bercerita bahwa tanganku patah, tidak ada lagi yang membalas pesanku. Airmata meluncur deras dari mataku. Rasa sakit yang selama ini aku rasakan, tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit ketika aku menyadari bahwa aku tidak mempunyai teman yang sebenarnya. Teman disaat suka maupun duka. Ketika aku menangis, Laila datang. Ia terkejut melihatku menangis. Aku menceritakan semua hal yang aku rasakan. Aku senang, Laila mendengar setiap ceritaku dengan seksama. Semenjak itu, aku berteman baik dengannya.

        Setelah lebih dari seminggu di rumah sakit, aku kembali bersekolah dengan tangan masih diperban. Laila menasehatiku agar pagi ini aku pergi dengan wajah tersenyum. Aku menuruti nasehatnya, alhasil pagi itu tatapan aneh yang biasanya aku terima, berubah menjadi senyum. Aku sangat senang. Aku bercerita hal tersebut pada Laila saat istirahat. “Alhamdulillah, senang kan rasanya punya banyak teman?” kata Laila sambil menyeruput es jeruk di depannya. “Iya, aku sangat senang. Terima kasih ya sudah menjadi teman yang baik untukku”. Aku tersenyum sambil menatap Laila.

        Sejak saat itu, aku mulai bersemangat ke sekolah. Bukan karena aku takut Ayah akan menyita mobilku lagi, tapi karena aku ingin menuntut ilmu. Laila pernah meminjamkan bukunya yang berjudul “Wanita Impian Rasulullah”. Buku itu berisi tentang bagaimana cara seorang wanita muslimah bersikap. Aku sangat tertarik dengan semua cerita Laila tentang Rasulullah. Aku begitu kagum dan ingin belajar lebih dalam lagi mengenai hal yang dicintai oleh Rasulullah, agar aku juga dicintai olehnya.

        Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya. Aku segera mengambil wudhu, bersiap untuk shalat. Yang aku tahu, Rasulullah tidak hanya selalu shalat tepat waktu, namun juga mengerjakan shalat sunah lainnya. Selesai shalat, aku turun untuk menemui Ayah dan Ibu di ruang makan. Mereka heran melihat aku sudah berpakaian rapi. “Kenapa melihat seperti itu? Ada yang aneh dengan Citra?” tanyaku. “Loh? Kamu lupa ya sayang, ini hari ulang tahun kamu kan? Biasanya kalau kamu ulang tahun, kamu akan meminta uang lebih dari Ayah untuk mentraktir teman-temanmu” Ayah berkata dengan heran. Sejenak aku terdiam, kenapa aku lupa tentang hari ulang tahunku? “Citra tidak meminta apapun Yah”. “Yasudah, nanti kalau ada permintaan bilang saja ya. Selamat ulang tahun sayang, Ibu sayang padamu.” Ibu mencium keningku dengan mesra, begitupun dengan Ayah. Pagi itu aku merasa senang, kehangatan keluarga yang sudah lama hilang akhirnya aku rasakan kembali. Alhamdulillah, kataku dalam hati.
        “Selamat ulang tahun Citra!” teriak Laila ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi. Teman-teman sekelas pun ramai memberikan selamat dan menjabat tanganku. Hampir saja aku menangis. Belum pernah ada begitu banyak orang yang peduli denganku. Rasanya, aku sudah membuat banyak perubahan dalam hidupku. Senyumku mengembang, sepertinya ulang tahunku kali ini mempunyai arti yang sangat besar. Setelah semua temanku pulang, Citra memberikan sebuah kotak kecil kepadaku. “Jangan dilihat dari segi harganya ya, tapi Laila berharap kado ini bermanfaat untuk Citra” Laila berkata dengan senyum manisnya. “Boleh dibuka sekarang?” kataku bersemangat. Laila mengangguk. Ketika sudah terbuka, aku terdiam. Isinya bukan parfum mahal atau barang bermerk seperti biasa yang aku dapatkan. Bukan juga sepatu atau tas, melainkan kerudung dengan berbagai macam warna. “Citra, salah satu kewajiban kita sebagai wanita muslimah itu menutup aurat. Laila rasa, Citra juga semestinya menjalankan kewajiban tersebut”. “Tapi, aku tidak bisa. Aku belum siap!” kataku lalu pergi meninggalkan Laila yang tak berkutik mendengar ucapanku.
       
        Aku merenung setelah selesai membaca buku yang baru saja aku beli sepulang sekolah tadi. Hadiah dari Laila masih tersimpan rapi di atas meja belajarku. Perlahan aku mengambil kerudung tersebut, kemudian aku memakainya dan bercermin. Aneh, pikirku. Dengan cepat aku melepas kerudung tersebut. Aku duduk, termenung. Aku baru saja membaca buku mengenai jilbab sesuai syariat. Hatiku bergetar saat membacanya. Begitu banyak sabda Rasulullah yang menjelaskan tentang cara memakai jilbab yang sesuai dengan syariat. Aku begitu mencintai Rasulullah, aku ingin selalu mengikuti amal baiknya, aku ingin menerapkannya dalam kehidupanku sehari-hari. Tapi apa aku bisa? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di dalam otakku. Hingga akhirnya aku tersadar ketika Ibu mengetuk pintu kamar. Aku menceritakan semua hal kepadanya. Kemudian, Ibu hanya tersenyum dan menyuruhku berganti baju. Ia ingin mengajakku ke suatu tempat katanya.
        Aku terkejut ketika ternyata Ibu membawaku ke salah satu butik. “Ini butik khusus muslimah, Ibu dengar baju disini bagus. Kamu ambil saja semua yang kamu mau” Ibu berkata sambil tersenyum kepadaku. Aku sedikit heran karena tidak biasanya Ibu menawariku berbelanja. Alangkah terkejutnya ketika aku menyadari bahwa baju yang dijual disini hanyalah baju yang menutup aurat. Tidak ada hiasan yang mencolok, bahan yang menerawang, juga yang tidak sempit di badan. Semuanya berbahan lurus, lembut, dan berwarna pucat. Aku menjelajahi seluruh bagian di butik ini, lama-lama aku menyukainya. Tak lupa aku membelikan Laila, pasti dia senang, pikirku.

        Aku teringat tentang sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa jika kita saling menyayangi sesama umat manusia, Allah juga akan menyayangi kita. Kemudian aku bergegas pergi ke rumah Laila sambil membawa kantong belanjaan. Dengan ragu aku mengetuk pintu rumahnya sambil mengucapkan salam. Laila keluar dan menyambutku dengan ramah kemudian mempersilahkan aku untuk duduk. “Aku pikir kamu marah” kataku memulai percakapan. “Citra, Rasulullah bersabda agar kita selalu bersikap lemah lembut, juga menjadi orang yang pemaaf” Laila tersenyum. Aku berdecak kagum mendengar jawaban Laila. Ya, dia memang sempurna. Kemudian aku mengeluarkan baju yang baru saja ku beli. Laila tersenyum, ia mengajakku ke kamarnya.
        Aku tersenyum melihat pantulan diriku di cermin. Aku memakai rok panjang dengan blouse sederhana berwarna merah muda. Aku juga memakai jilbab berwarna senada. Laila mengatakan aku cantik sekali. Aku tersipu malu. Setelah berpamitan, aku pulang ke rumah.
        Ibu dan Ayah sudah menungguku di depan rumah. Aku memang pulang larut malam dan lupa mengabari mereka. Mereka terkejut melihat aku turun dari mobil menggunakan jilbab. “Bagaimana? Sekarang Citra mau berubah jadi lebih baik. Ayah dan Ibu setuju?”. Ibu tidak menjawab, ia langsung memelukku dengan haru. “Tentu saja sayang, kami senang kamu sudah berubah. Tetaplah menjadi anak yang berbakti dan taat kepada ajaran agama. Ayah bangga dengan Citra” Ayah tersenyum sambil memelukku dengan erat. Tanpa sadar ternyata airmata sudah jatuh ke pipiku. Ya, bukan lagi airmata penyesalan atau kemarahan, melainkan airmata bahagia yang sekarang aku rasakan.



*cerita ini berhasil membawaku meraih Juara 2 Lomba Menulis Cerpen yang diadakan dalam rangka HUT FLP se-Kalbar pada bulan Februari ini. Sedikit kata, tulisan itu adalah bukti jika kita pernah hidup di dunia ini. Tulislah sesuatu yang memberi manfaat bagi orang lain. Keep trying and never give up! :)

-Fitri Fazrika Sari-