Jumat, 13 November 2020

Tulisan Pertama untuk Kamu

 Jalan masih panjang,

dan aku telah memilih untuk menjalaninya sama kamu.


Ternyata, ukuran waktu itu bisa salah.

Aku bisa berkenalan dengan orang selama dua, tiga, atau lebih dari tujuh tahun; tapi tidak sedalam seperti aku kenal sama kamu.


Satu bulan, loh.

Waktu yang menurutku sangat singkat.

Ditambah lagi, masa pendekatan yang...cuma dalam hitungan hari? Ahaha.


Kalau menurut kamu,

kamu sudah memperhatikan aku sejak zoom-an di kelas...

Kalau dari aku,

justru aku baru mulai memperhatikan kamu dengan serius setelah telfon di hari Jum'at itu.


Sejujurnya lucu juga, betapa Allah bisa membolak-balikkan hati manusia dengan semudah itu.

Aku yang awalnya enggak punya ketertarikan apa-apa dengan menjalani suatu hubungan serius, justru sekarang malah segera ingin menyelesaikan urusan-urusan pribadi agar bisa segera ngurusin kamu. Ah, kita lebih tepatnya.

Aku yang awalnya benar-benar membangun tembok untuk orang lain, justru sekarang mulai meruntuhkan tembok itu. Ya...sedikit-sedikit dan pelan-pelan, sih... Tapi aku merasa, kalau sama kamu, aku enggak perlu menjadi seseorang yang kuat untuk berdiri sendiri dan bisa menyelesaikan segala masalahku sendiri.


Semenjak ketemu sama kamu,

aku mulai belajar untuk menjadi orang yang mudah berbagi. Hal yang seharusnya sangat tidak nyaman untuk aku lakukan.

Aku mulai berbagi keluh kesahku, entah dari hal remeh seperti air kosan yang kotor, listrik yang hidup segan mati tak mau, malam itu sedang hujan dan petir, hingga hal berat yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun kecuali diri sendiri.

Aku juga mulai berbagi dan meminta pendapat. Jujur, sebelumnya aku adalah orang yang akan memutuskan sendiri untuk makan apa, ikut kegiatan apa, mau tidur apa enggak, mau ngerjain apa, prioritasnya seperti apa, dan sebagainya. Tapi semenjak ketemu kamu, aku mulai berdiskusi. Aku mulai mempertimbangkan pendapat kamu dan berusaha untuk mulai lebih sering bertanya sama kamu; meski untuk hal-hal kecil seperti kamu kalau mandi, mulai dari bagian apa.


Ah iya,

aku juga mulai berbagi mimpi sama kamu.

Hal-hal yang dulunya aku tulis sendiri, aku simpan sendiri, aku semogakan sendiri, dan juga aku pikirkan sendiri; sekarang semuanya jadi pembahasan yang bisa kamu ikut campuri. Saat ini, kamu sudah menjadi bagian dari perjalanan mimpi-mimpi aku dan kamu juga menjadi bagian dari apa yang aku impi-impikan.


Terima kasih untuk empat minggu pasang-surut yang telah kita lalui, ya.

Rasanya tidak sabar untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan kamu, dan menjalani perjalanan yang panjang ini bersama kamu. Aku sayang kamu, hehe :)

Kamis, 17 Januari 2019

Hari Pertama

Hari ini kami banyak senyam-senyum sendiri.

Pertama kali datang ke Sabah membuat segala hal menjadi seru.
Porsi nasi yang banyak, bahasa melayu dimana-mana, juga jalanan yang lebar dan mulus membuat kami merasa beneran lagi diluar negeri.


Ah iya, CLC Cerdas namanya.
Sekolah yang akan menjadi saksi bisu perjalanan kami berdua yang tidak biasa masak ini selama 45 hari kedepan.
Letaknya tak jauh dari Kota Kinabalu, dikelilingi hutan (?), perbukitan, juga sungai kecil yang airnya jernih


Hehe,
bismillahirrahmanirrahim, ya? 😊

Minggu, 28 Januari 2018

Dilan (2)

Jangan rindu, berat.
Biar aku saja.


Ah, sayangnya Dilanku tidak seperti Dilan-nya Milea.
Kesenangannya untuk pergi jauh mengejar debur ombak sepertinya membuat ia sedikit...aneh?


Dilanku pernah bertanya, kau tau kenapa aku suka mengejar ombak?, aku menggeleng
Ah, harusnya kau bertanya balik kalau tidak tau!
Jika kau hanya menggeleng, bagaimana kalau aku bilang "yaudah"
Bagaimana kalau aku hanya tertawa
Bagaimana kalau aku jadi malas bercerita kepadamu?
Ah...apa pertanyaanku terlalu susah?
Apa kau butuh waktu untuk menjawabnya?
Jika tidak tahu, lebih baik kau bertanya
Kalau terlalu sulit, minta bantuan
Pengetahuan ada karena manusia itu makhluk serba ingin tahu; selalu berusaha mendapat penjelasan atas hal-hal yang 'berbeda' dari dirinya. Apa kau tidak seperti itu?

Aku menatapnya heran.
Diam beribu bahasa.
Tidak menyangka, Dilan yang biasanya diam dan hanya mempedulikan ombak, sekarang berceloteh sedemikian panjangnya.

Kenapa? Kau tidak penasaran?
Padahal kau selalu mau ikut kalau aku ingin ke pantai
Padahal kau hanya akan memesan satu buah kelapa dan duduk selama berjam-jam!
Kau bahkan tidak menyentuh air sedikitpun! lalu ia tertawa.
Kencang sekali.
Aku kaget lagi.
Tapi, tidak butuh waktu lama untukku tersenyum dan menjawab;

Aku tidak tau kenapa kamu suka mengejar ombak, Dilan.
Tapi terima kasih, ya.
Dilan mengarahkan pandangan herannya; tujuh senti lagi hampir mengenai hidungku.
Kamu membuatku senang, saangat senang!
Terima kasih sudah duduk denganku selama lima belas menit, padahal ombak sedang menghempas dengan kencang; kesukaanmu.

Dilan tersenyum.
Aku juga.
Ah, kalau Dilan-nya Milea sanggup menanggung rindu itu sendiri; Dilanku ini selalu datang untuk membuang rindu. Kita bertemu saja, jangan dibikin rindu, berat katanya.



-Fitri Fazrika Sari-

Dilan sebelumnya:

Kamis, 18 Januari 2018

Makasih, ya :>

Berawal dari; Yuk, liat sunrise!


Terus naik level jadi; Ayo kita muncak, yang pendek aja!
Nanti ke sini aja, aku udah tau jalannya
Bisa kok, nanti aku siapin peralatannya
Kamu jadi sie konsumsi dan dokumentasi ya
Nanti kamu bawa aja jaket dua lapis, senter, sama sepatu
Pake sarung tanganku sini


Dan ketika ragu, kamu bilang; Aku siap sih gendong kamu
Menurutku, kamu kuat kok
Ayo, kalo berhentinya lama nanti kerasa capeknya!
Dikit lagi nyampe pos 1, kok
*nyodorin madu
*bukain air minum
*bawain ransel
Kalo jalannya udah tanah gini, bentar lagi nyampe nih
Coba liat ke samping, udah keliatan kan, lampu kotanya?


Hingga pada akhirnya, kita sampe di puncak
Kamu yang cuma senyum-senyum tipis liat aku jalan sambil lompat-lompat kecil
Aku yang gabisa berhenti senyum
Aku yang dikit-dikit bilang makasih ya sambil senyum (lagi)
Aku yang senyum (lagi-lagi) ke pendaki lain yang kebetulan lewat
Dan, senyum sekali lagi ketika mengetik tulisan ini

Hehe
:)

Kamis, 21 September 2017

Hai, Kapten ..

Hai, kapten.
Bagaimana kabar Selat Malaka? Apakah sama indahnya dengan yang kau bayangkan selama ini?

Gak kerasa ya,
udah tiga minggu kamu berlayar.
Kudengar, kamu membuat proyek besar disana. Ya, apalagi tujuannya kalau bukan untuk menebar benih kebaikan sebanyak-banyaknya.

Sebagai penduduk biasa,
tentu saja aku kagum.
Melihat kamu menjadi salah satu pionir dari kampung kita.
Berlayar menerjang ombak dengan satu tujuan mulia.


Menunggumu dari bibir pantai, telah kulakoni selama tujuh bulan terakhir.
Aku yang akan membawa serta tas serta perlengkapanmu ketika kau turun dari kapal.
Tak lupa juga, menyuguhkanmu roti serta kopi panas yang katanya kau suka.
Serta menceritakan segala hal yang dialami penduduk ketika kau sedang pergi berlayar.
Katamu, aku lah orang yang paling bisa kau andalkan.

Tapi kapten,
semakin hari lautmu semakin luas saja jangkauannya.
Katanya, tiga bulan lagi kau akan ke Hindia, bukan?
Jujur saja aku takut, merasa bahwa aku semakin kecil saja bagimu.

Aku tau,
kamu memiliki andil penuh untuk menentukan langkah kakimu sendiri.
Yang dimana...
aku berharap dapat sedikit berperan untuk menentukan langkahmu selanjutnya~


-Fitri Fazrika-

Selasa, 25 April 2017

Surat Pertama, untuk Anda

Kepada,
Anda yang saat ini berpikir untuk meminang saya.


Sebelumnya,
perkenalkan,
ini saya,
wanita yang kau pilih untuk menjadi teman hidupmu kelak.

Saya yang sebelumnya pernah menjalin hubungan dengan beberapa orang.
Saya yang dulunya adalah anak yang suka berbohong pada orang tuanya.
Saya yang sempat menjauh dari-Nya.
Saya yang pernah membuat kesalahan-kesalahan besar.


Sebelumnya,
perkenalkan pula,
mereka adalah orang tua yang akan menjadi ayah-ibumu kelak.

Pekerja keras yang ingin menyekolahkan anaknya.
Pekerja keras yang selalu berusaha untuk memenuhi keinginan anaknya.
Pekerja keras yang menyembunyikan keluh kesahnya.
Pekerja keras yang hanya ingin mendapat balasan kasih dari anaknya.


Bagaimana?
Apakah Anda siap?

Menerima masa laluku seperti halnya kita yang akan membuat masa depan;
serta
bekerja lebih keras seperti harapan mereka untuk membuat hidupku nyaman?


Jika siap,
tunggulah pesan berikutnya, yang akan menentukan langkah kita selanjutnya~

Minggu, 20 November 2016

Dilan

Semenjak Pidi Baiq memunculkan novelnya, banyak wanita yang jatuh cinta pada Dilan, sesosok lelaki humoris nan romantis kepada Milea.
Lelaki yang menimbun rindunya hanya untuk Milea.
Lelaki yang selalu menjaga Milea, bahkan ketika ia tak lagi menjadi pacarnya.


Asal kau tahu, aku mengenal Dilan yang hidup nyata di bumi ini. Dilan yang sama seperti Dilan yang mencintai Milea apa adanya.

Dilanku ini,
senang bepergian jauh untuk mencari ketenangan bersama debur pantai
senang mendaki gunung untuk melihat mentari pertama di suatu hari

Dilanku ini,
selalu memakai jaket jeans usang yang sudah pudar warnanya
mengelilingi kota dengan motor tua dan helm kerupuknya
tidak lupa; sambil menyapa setiap orang yang dilewatinya

Dilanku ini,
pandai merangkai kata menjadi lebih indah dan menyejukkan
tiap-tiap yang ia tuliskan
berlafal senja, hati. rindu, bumi, matahari, dunia dan seisinya

Aku suka.
Aku bahagia tiap kali membaca tulisannya.
Begitu tenang, sunyi, namun berambisi.


Cita-citanya adalah satu: pulang-pergi ke Bandung naik kereta api!
Katanya, tak ada rel kereta di kampung halaman.

Aku juga ingin bepergian dengannya naik kereta menuju Bandung,
pasti asyik.
Dari jauh saja, aku senang mendengarnya bercerita.
Dari jauh saja, aku bangga melihatnya mendapat banyak pujian.
Dari jauh saja, aku bahagia karenanya.

Lidah ini terlalu kelu untuk mengajak Dilan berbicara.
Membalas senyumnya saja sudah cukup membuatku salah tingkah.


Benar kata Dilan kepada Milea;
Asal kamunya tetep ada di bumi, udah cukup. Udah bikin aku seneng :)




-Fitri Fazrika Sari-

Rabu, 17 Agustus 2016

Untuk Indonesia, dari Generasi 1997

1997.
Baru saja aku dilahirkan, Indonesia sedang mengalami reformasi besar-besaran yang pada akhirnya berdampak pada krisis moneter hingga tahun 1998.

Ya, kejadian itu baru aku pahami ketika guru di sekolah menerangkan hal tersebut. Ah, pantas saja, ibuku pernah bercerita bahwa nenekku datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk membawa susu serta baju yang cukup banyak untuk diriku. Katanya, beliau tidak mampu untuk membeli susu yang kala itu harganya melonjak tinggi di tanah Jawa.
Mungkin, sebagian besar dari kalian juga punya cerita lama yang tidak jauh berbeda dariku, sebagai anak yang lahir pada tahun 1997.


Hampir lebih dari sepuluh tahun yang lalu, aku sedang asyik-asyiknya menikmati peran sebagai seorang bocah SD. Pergi ke sekolah dengan beberapa buku di dalam tas serta botol minum yang menggantung di leher. Pada saat jam istirahat, kami akan berlari-larian di tangga sekolah, bermain kartu, petak umpet, lompat tali, kejar benteng, serta permainan menarik lainnya hingga bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Ah iya, tidak lupa juga kenangan ketika kami menangis keras karena terjatuh di lapangan, tertabrak pintu, atau jatuh ke dalam selokan. Selain itu, hal pasti yang membekas adalah waktu imunisasi di sekolah! Setiap ada orang besar memakai baju putih dan membawa beberapa tas kecil, beberapa temanku akan sembunyi di kursi belakang atau langsung menangis :))
Ketika SD, aku juga menghabiskan waktu untuk menonton kartun di setiap pagi, SILET yang masih seputar mengejar orang kesurupan di siang hari, serta fear factors bersama ayahku di malam hari.
Mungkin, sebagian besar dari kalian juga punya cerita lama yang tidak jauh berbeda dariku, sebagai anak yang lahir pada tahun 1997.


Menginjak kelas SMP hingga SMA, aku mulai membulatkan sebuah cita-cita besar, seorang dokter anak. Selain itu, aku dan teman-teman juga mulai membayangkan masa depan seperti apa yang akan kita jalani nanti. Ada yang ingin cepat menikah, kuliah di luar negeri, menjadi model, atau ingin segera meneruskan usaha keluarga.
Mungkin, sebagian besar dari kalian juga punya cerita lama yang tidak jauh berbeda dariku, sebagai anak yang lahir pada tahun 1997.


Saat ini, mungkin sebagian besar dari kami sedang menyandang status sebagai seorang mahasiswa. Katanya sih, tingkat paling tinggi dari seluruh siswa. Agent of change, mereka yang membawa perubahan katanya.
Hari ini, Indonesia telah merdeka selama 71 tahun lamanya. Namun, banyak yang pesimis. Katanya anak muda jaman sekarang semakin menyimpang jauh dari nilai-nilai Pancasila. Katanya anak muda jaman sekarang tidak lagi bangga terhadap budaya serta aset yang dimiliki Indonesia. Katanya anak muda jaman sekarang sudah tidak peduli dengan masalah-masalah yang ada di sekitarnya, terlebih masalah-masalah besar yang terjadi di negaranya sendiri.


Itu kan cuma katanya.


Sekarang, aku dan teman-teman generasi 97 lainnya sedang berada di tahun kedua atau ketiga di kampus.
Ya, memang benar, saat ini aku belum bisa duduk di kursi tinggi yang dapat dilihat oleh ribuan rakyat Indonesia lainnya. Memang benar, sampai detik ini saja aku belum terlepas dari tanggungan orangtua. Memang benar, aku adalah satu dari ribuan anak muda lainnya yang sedang asyik bermain instagram dan snapchat hampir di setiap jamnya.

Tapi,

Aku sedang menuntut ilmu di bidang yang kusukai di jurusan ini.
Aku sedang berusaha mencoba beberapa cara untuk mendapatkan uang saku tambahan agar tidak membebani orangtua.
Aku memberanikan diri aktif dalam organisasi kampus.
Aku mendatangi tempat-tempat yang sedang melakukan kegiatan sosial.
Aku mulai mengkritisi masalah-masalah yang kulihat di koran maupun televisi.
Aku mulai merasa risih terhadap orang-orang yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan.
Aku ikut merasa kesal ketika kekayaan alam dan budaya kita diambil oleh orang luar.
Aku terharu ketika mendengar lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan.
Aku merasa segitu bangganya ketika siapapun dari Indonesia, memenangkan kejuaraan di tingkat dunia.
Juga, untuk pertama kalinya, aku merasa perlu untuk menunjukkan kasih cinta dan baktiku untuk Indonesia di hari kemerdekaannya.


Indonesia,
sepuluh tahun dari sekarang,
sepertinya aku akan melakukan hal yang lebih besar lagi,
untuk membangun Indonesia yang ramah pada semua rakyatnya


Mungkin, sebagian besar dari kalian mempunyai rasa tanggung jawab yang lain terhadap Indonesia, sebagai anak yang lahir pada tahun 1997.




-Fitri Fazrika Sari-

Rabu, 20 Juli 2016

Kirana

Kirana,
kamu adalah sosok paling sempurna yang pernah Tuhan ciptakan,
setidaknya bagi saya.

Parasmu indah,
namun hatimu jauh lebih indah.
Saya dapat melihat sinar ketulusan dari setiap tatapan matamu.
Saya dapat merasakan kebahagiaan yang dilontarkan oleh senyummu,
Saya dapat mendengar kelembutan dari setiap perkataanmu.



Kirana,
saya tau,
kamu adalah pejuang yang sangat tangguh,
terlebih bagi dirimu sendiri.

Saya selalu kagum dengan caramu menggapai semua asa.
Harapan baru yang selalu tumbuh,
serta impian yang akhirnya kamu raih satu demi satu.



Kirana,
saya takut.
Saya belum bisa menjadi sosok yang bisa kamu banggakan.
Saya masih terseok-seok untuk menaiki tangga-tangga harapan yang baru saya buat ketika saya bertemu kamu.
Saya merasa bahwa saya berada jauh dibawah kesempurnaanmu.

Kirana,
saya tidak dapat berjanji bahwa saya dapat menyusulmu disana.

Namun,
saya akan selalu mengiringi setiap langkahmu,
saya akan mendoakan yang terbaik untukmu
saya juga tidak berani berharap agar kamu mengagumi saya, seperti halnya saya yang jatuh terlalu dalam oleh kesempurnaanmu.



-Fitri Fazrika Sari-

Jumat, 01 Juli 2016

Tidak apa-apa

Tidak apa-apa.

Kamu bebas untuk memintaku melakukan hal-hal yang kamu mau.
Memintaku menunggu di ujung jalan agar kamu tidak lama menunggu.
Memintaku menghabiskan makan dengan cepat agar kamu tidak terlambat pergi ke kantor.
Memintaku untuk tidak manja, katanya biar aku menjadi wanita yang kuat serta mandiri.
Juga memintaku untuk tidak merengek akan masalah-masalah kecil yang kualami di kantor.


Tidak apa-apa.

Aku akan biasa saja jika kamu tidak menggenggam tanganku di depan mereka.
Duduk berjauhan ketika sedang bersama di keramaian.
Memaksakan diri untuk menahan tawa akan lelucon yang kusampaikan ketika bercengkrama dengan teman kita.
Juga menolak ketika aku ingin mengabadikan momen kita dalam sebuah format .jpg.


Tidak apa-apa.
Rasanya aku terlalu sibuk meyakinkan diri bahwa aku memang tidak apa-apa.
Setiap saat, apapun yang kamu minta, selalu kuanggap bahwa itu memanglah tidak apa-apa.
Ya, aku yakin.
Aku merasa tidak apa-apa.

“Ah, sudahlah. Tidak apa-apa,” batinku sambil tersenyum manis ketika kamu mulai mengayunkan tangan menuju bahuku. Agar aku semakin kuat, katanya.



-Fitri Fazrika Sari-

Minggu, 05 Juni 2016

It Means a Lot

It means a lot.
To say ‘honey’ each and every day.

It means a lot.
To make a call even we already met just an hour ago.

It means a lot.
To hold my hands when we are walking down the street.

It means a lot.
That you asked me what I did on today.

It means a lot.
That you come over here just to see my face in a while.

It means a lot.
That you answer all of my silly thought or those retorical words.

It really means a lot when you said that you love me and show me your love.
I know, I really know that we care for each other. That we really love for each other. That we have a dream that we’re gonna looking for.
I know.
I understand.

But,
Somehow,
I need you the most in the smallest thing that I did everyday.


For example? Breathing.


-Fitri Fazrika Sari-

Selasa, 29 Maret 2016

Kepada Calon Ibu Mertua

Perkenalkan, ini saya.
Wanita yang saat ini sedang berusaha untuk memantaskan diri bagi anak anda.
Wanita yang ingin mengambil alih tugas anda sebagai pusat dunianya.

Perkenalkan, ini saya.
Saya yang beberapa waktu ini telah menemani di kala susah maupun senangnya.
Saya yang berada di sisinya ketika ia jauh dari anda.
Saya yang selalu ingin membuatnya tertawa dalam segala cara.

Maaf, untuk kali ini dan seterusnya, saya ingin mengambil peran anda.
Saya yang akan menyiapkannya sarapan sembari mempersiapkan tas kantornya.
Saya yang akan menunggunya di depan rumah ketika ia pulang larut.
Saya yang akan terjaga semalaman demi memastikan panas tubuhnya kembali normal.

Untuk kali ini dan seterusnya,
Biarkanlah ia menjadi imam di setiap waktu saya berjumpa dengan-Nya.
Biarkanlah saya yang akan menjadi teman ia membuka hingga menutup mata.
Biarkanlah saya membagi luka dan tawa ini untuknya.
Beri saya kesempatan untuk menjadi sosok ibu yang selama ini ia idamkan.

Ya, ibu itu adalah anda.
Tak pernah sekalipun ia melewatkan cerita tentang anda.
Entah itu sekadar canda tawa atau kekonyolannya yang membuat anda menangis.
Anda selalu menjadi sosok terhebat di matanya.
Hanya anda yang bisa memahami ia dan juga keluarga anda.
Hanya anda yang menjadi penengah dalam segala konflik yang terjadi dalam keluarga anda.
Hanya anda yang selalu menjadi orang pertama yang dicari oleh keluarga anda.

Maka, izinkanlah saya untuk berbagi peran itu bersama anda.
Izinkanlah saya untuk mengambil sebagian dari diri anak anda yang telah membuat saya menjadi seperti ini.
Hanya dialah yang membuat saya kuat menjalani hidup keras yang baru saja akan kami lewati.
Hanya dia, lelaki yang saya inginkan untuk meminang diri saya.
Hanya dia, imam yang saya butuhkan untuk membangun sendiri keluarga impian saya.

Saya berjanji,
Saya berjanji tidak akan mengambil ia sepenuhnya dari diri anda.
Saya akan selalu menyisihkan sebagian waktunya untuk anda.
Saya tidak akan mengambil alih sepenuhnya tentang ia—meski itu adalah hal yang paling saya inginkan di dunia.


Inilah saya, wanita yang ingin menjadi bagian utuh dari anak seorang ibu terhebat seperti anda.


-Fitri Fazrika Sari-

Sabtu, 05 Maret 2016

Minorities as a Form of Diversity

Pepatah lama mengatakan, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Awalnya aku masih belum paham, kenapa sih harus Cina? Kenapa bukan Arab? India? Amerika? Kenapa harus Cina? Apa spesialnya Cina, sampai kita harus jauh-jauh pergi ke sana untuk sekadar belajar?


Akhirnya, aku ketemu jawabannya. Bulan Januari hingga Februari kemarin, aku mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu perwakilan AIESEC UNS sebagai peserta exchange di program winter tahun ini :)

Cina adalah tujuan pertamaku ketika mencari project. Pertanyannya, kenapa harus Cina? Apa aku mau mengamalkan pepatah lama yang ada di kalimat pertama? Hehe bukan kok. Alasannya simpel, aku mau megang salju. Iya, dengan impian sesimpel itu, aku bener-bener berdoa biar bisa keterima di Cina. Alasan lainnya? Yaa, karena aku tau bahwa program ini tidak seluruhnya gratis, maka aku hanya memilih negara yang masih dalam kawasan Asia. Biar apa? Ya biar gak terlalu mahal atuh...
Oh ya, setelah sampai di Cina, beberapa teman bahkan orang yang gak aku kenal mulai ngechat aku. Gimana sih caranya ke sana? Kemarin seleksinya susah gak? Itu bayarnya berapa? Fit kamu liburan ke Cina? AIESEC itu apa sih? Fit xxxxxxxxxxx? Fit yyyyyyyy? Yha, begitulah. Setelah ini, aku posting pengalaman seleksiku bersama AIESEC yaa, hope it helps!


Hidup di Cina, tepatnya di kota Wuhan selama enam minggu meninggalkan banyak banget pengalaman buat diriku sendiri. Rasanya tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman itu....kangennya kerasa banget. Tapi, hal itu bisa diatasi karena aku punya banyak kenalan baru dari negara yang berbeda-beda! :D Senang banget bisa belajar banyak kebiasaan dari teman-teman lain, belajar memperbaiki dan memperbarui kosakata, serta jalan-jalan di negeri orang, hehe.

Di sana, untuk pertama kalinya aku mengerti bagaimana rasanya menjadi kaum minoritas. Kamu mau tau rasanya dipandang aneh ketika jalan di tempat umum? Rasanya jadi orang bego karena gak ngerti apa yang diomongin penjual ketika kita mau pesan makan? Rasa susahnya nyari tempat makan yang benar-benar halal? Rasanya jalan sumpek-sumpekan sama penduduk Cina yang buanyak banget itu?
Loh? Kalau kayak gitu, aku gak bahagia dong di sana?
TIDAK SAMA SEKALI!
Malah, aku bener-bener ngerasa senang ketika menjadi kaum minoritas. Aku mendapat banyak banget pandangan baru tentang bagaimana orang melihat kita, bagaimana cara orang lain berpikir, serta bagaimana cara mereka menjalani hidupnya sehari-hari.
Hidup sebagai kaum minoritas membuat aku ngerasa semakin "dekat" dengan Ia. Hidup sebagai kaum minoritas membuat aku belajar lebih banyak tentang kesabaran juga keikhlasan. Hidup sebagai kaum minoritas membuat aku jadi lebih ngehargai perbedaan. Sungguh :)


Mungkin, banyak dari mereka yang berpikiran bahwa aku selalu ngejalanin hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, salah satunya dengan pergi ke Cina. Bukan, jangan pandang bahwa aku "hanya" sedang liburan. Selagi masih menjabat status sebagai seorang mahasiswa, aku hanya ingin mencoba berbagai pengalaman baru yang akan menambah pengalaman hidup. Aku ingin keluar dari zona nyaman, aku ingin menantang diriku sendiri untuk berani mengambil tantangan, aku ingin melihat dunia sebanyak dan seluas mungkin, aku ingin mengapresiasikan waktuku dengan segala kegiatan positif. Aku ingin, nantinya, aku bisa menjadi secuil penggerak semangat bagi mereka, mahasiswa Indonesia yang kreatif dan inspiratif.
Aamiin ya rabbal alamin..



-Fitri Fazrika Sari-

Minggu, 10 Januari 2016

Jarak

Jarak memiliki dua sisi seperti koin. Di satu sisi, aku tidak pernah ragu akan sebuah jarak. Namun, di sisi lain, ada jarak yang sangat aku takuti. Jarak yang benar-benar akan memisahkan dua insan yang sedang bersatu. Jarak yang akan membuat dua hati itu menjadi rapuh.

Aku tidak pernah takut dengan luasnya daratan serta lautan yang kini memisahkan kita. Entah itu hanya puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilometer pun aku tak takut.
Apakah kini kita sedang berada di pulau yang berbeda? Tak mengapa. Kalaupun mau, aku atau kamu bisa saling pergi menuju sisi masing-masing. Cukup menunggu dalam hitungan jam, kita akan bertemu juga.
Apakah kita akan berada di negara yang berbeda? Tak mengapa. Kalaupun tak bisa, kita masih bisa bertemu lewat suara. Cukup menunggu dalam hitungan menit, kita akan bertemu juga.
Apakah aku akan resah? Tentu saja tidak. Jarak bukanlah pemisah bagi hubungan kita. Jarak bukanlah penghalang bagi dua insan yang sedang dimabuk cinta. Jarak hanyalah setitik alasan agar kita tidak bertemu saat itu juga. Jika biasanya kita dapat berjumpa dengan mudah, kini jarak menjadikannya sedikit lebih susah. Tapi tak mengapa, toh kita juga masih akan berjumpa kan?


Hanya saja, aku takut akan suatu jarak. Jarak itu bukan soal perbedaan tempat ataupun waktu. Jarak itu...adalah kita yang sudah berbeda.

Kamu yang tak lagi sama. Itu yang sangat aku takutkan. Anggap saja aku pecundang, yang akan langsung jatuh terhempas ketika kamu tinggalkan. Aku terlalu takut jika tak lagi bertemu dengan kamu yang sama. Kamu yang selalu marah ketika aku terlalu sibuk. Kamu yang selalu senang ketika aku mulai tersenyum. Kamu yang selalu sedih ketika aku terluka.
Yang aku tau, kamu itu selalu menjadi sosok yang selalu aku andalkan. Kamu menjadi sosok yang tidak akan pernah bisa aku lepaskan. Apa jadinya kalau kamu tak lagi menjadi orang yang sama? Aku...aku bahkan tidak ingin membayangkannya. Hanya dengan mengetik saja, aku tau. Aku tau kalau aku tidak akan sanggup untuk bertemu dengan kamu yang berbeda. Jika boleh menjadi egois, aku ingin kamu akan selalu menjadi sosok yang sama. Sosok yang membuatku terlalu jatuh dalam hangat kasih sayangmu.

Aku memang takut ketika kamu akan berubah menjadi orang yang berbeda. Namun, aku lebih takut jika itu adalah aku yang berbeda. Bagaimana jika aku tak lagi menjadikanmu prioritas dalam hidupku? Bagaimana jika akulah penyebab terjadinya jarak itu? Bagaimana jika aku yang secara tidak langsung, memintamu untuk menciptakan jarak?

Ah. Jangan.

Aku tidak mau semuanya berakhir karena jarak itu. Biarlah laut biru ini yang memisahkan kita. Biarlah seribu kilometer ini membuat kita tak lagi bertemu. Hanya satu pintaku. Cukup daratan, lautan, dan luasnya bumi ini yang membuat jarak di antara kita. Apa yang selama ini kita jaga di dalam hati, jangan kamu jauhkan juga. Bolehkah?



-Fitri Fazrika Sari-

Senin, 21 Desember 2015

Sekadar Mimpi

Mimpi. Setiap orang pasti punya mimpinya masing-masing. Paling tidak, mereka “pernah” merasa punya mimpi.

Pernah?
Kenapa seseorang pernah bermimpi? Apa itu artinya, saat ini mereka tidak mempunyai mimpi? Hm, bisa jadi.
Mimpi itu khayalan.
Mimpi itu imajinasi.
Mimpi itu sesuatu yang masih jadi “idaman” buat kita.
Lantas, jika mimpi itu masih sebatas fana, mungkin aja dong, kita tidak meraih mimpi tersebut?

Mimpi yang tidak dapat terwujud itu rasa sakitnya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Okelah, mungin saja orang akan berkata,”Di balik semua itu pasti ada hikmahnya kok...”. Lah iya, bisa aja Tuhan menganggap mimpi kita itu bukan yang terbaik. Ia yang lebih mengetahui segala sesuatu, tentu saja akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Tapi, kali ini saja. Boleh kan, kita berbicara tentang sisi kelam dari kejadian itu? ...

Keparat.
Aku sudah berusaha keras untuk mewujudkan mimpi tersebut. Aku sudah sejak lama memupuk keinginan untuk mendapatkan hal tersebut. Aku sudah cukup yakin kepada Tuhan, bahwa Ia akan mengabulkan permintaan tersebut.
TAPI APA? I got nothing.
Mimpi itu hilang. Musnah. Hancur. Berderai. Gak kecapai. Bikin muak. Bikin sedih. Kecewa. Kesal. Marah.

Marah? Tentu saja iya.
Aku merasa marah karena telah menggantungkan harapan setinggi langit, bahwa aku akan meraih mimpi tersebut. Aku berpikir, jika aku bekerja keras maka aku akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang aku minta. Tapi, kenapa aku gagal? Kenapa, saat ini aku masih merasa sedih karena tidak bisa menggapai mimpi tersebut. Kenapa, saat ini aku tidak mempunyai mimpi baru saja, agar aku bisa melupakan mimpiku yang tidak tercapai itu.

Omong kosong.

Mengikhlaskan diri dengan impian yang tumbuh sejak kecil ternyata tidak semudah itu. Lantas, ikhlas seperti apakah yang harus aku punya?



-Fitri Fazrika Sari-

Senin, 07 Desember 2015

Jarak Satu Tembok

Aku sedang tenggelam bersama kumpulan buku-buku usang ketika aroma vanila tercium samar dalam sepersekian detik. Aku mengangkat wajah, berusaha mencari siapa pemilik aroma tersebut. Ah, ternyata dia. Dia dengan rambut panjangnya yang sedikit basah dan buku tebal milik Dale Carnegie di tangan kirinya. Tatapannya lurus, namun aku melihat sedikit senyum dari sudut pipinya.

Mungkin saja dia bosan atau lelah berdiri selama hampir setengah jam. Aku melirik ujung kakinya yang perlahan meninggalkan tempat. Sambil terus menunduk, aku mengikuti arah ke mana ia akan membawa kakinya pergi. Tek. Kaki itu berhenti tepat di sampingku. Tidak, tidak, bukan tepat di sampingku. Lebih tepatnya, tepat di sisi lain dari rak buku yang sedang aku jadikan tempat bersender. Rak buku yang tidak terlalu penuh membuatku dapat melihat kakinya dengan jelas, namun tak cukup membuatku melihat wajahnya dengan jelas pula.

Takut. Anggap saja aku pengecut. Bahkan aku hanya perlu sedikit mendongakkan kepalaku untuk dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dengan jarak sedekat ini, tentu saja aku akan bisa melihat apa warna matanya, bagaimana bentuk bibirnya, dan judul buku apa yang kini dibacanya. Sayang, rasa takutku terlalu besar. Untuk melihat ujung sepatunya saja, aku sangat berhati-hati menurunkan sedikit buku yang sedang ku pegang. Apalagi untuk melihat wajahnya?

Kami terpisah oleh ribuan inspirasi, ratusan buku, dan puluhan pengarang yang hanya berderet di satu rak panjang. Sepatu kami berjarak kurang dari satu meter antara satu dan lainnya. Sangat dekat, memang. Namun, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara untuk memulai percakapan denganmu. Dalam jarak satu tembok, aku sadar sepenuhnya bahwa aku mulai mencintaimu.

Sabtu, 21 November 2015

Tulisan untuk Tuhan

Belum pernah sekalipun aku mendoakan seseorang sebegitu dalamnya seperti saat ini. Bukannya meminta pertolongan untuk diriku sendiri, tapi aku malah menyebut nama kamu di antara isak tangisku dengan Tuhan.

Tuhan, hamba mohon, bantulah ia. Kuatkanlah hati dan niatnya. Dekatkanlah ia dengan mereka yang dapat membantunya untuk bangkit. Hilangkanlah segala rasa bersalah dari dirinya.
Tuhan, hamba sangat yakin, ia bisa melakukan yang lebih dari saat ini. Tuntunlah ia Tuhan, tuntunlah ia menggapai angannya. Hamba yakin, ia adalah orang yang beberapa tahun lagi akan berdiri tegap di depan sana, menceritakan betapa kuatnya ia melewati masalah tersebut dan betapa bangganya ia menaklukkan masalah itu. Ia adalah satu dari jutaan orang yang akan berpengaruh bagi masyarakatnya. Ia adalah calon inspirasi bagi miliaran orang lainnya. Hamba mohon kepadamu Tuhan, percayalah pada hamba.
Tuhan, kalaupun saat itu datang, hamba juga tidak sepenuhnya yakin. Apakah hamba akan melihatnya dari samping, atau dari kejauhan. Sejujurnya hamba tidak yakin, apakah dia adalah orang yang ditakdirkan untuk bersama hamba. Namun, hamba yakin. Dia adalah orang yang sangat tepat untuk mendapatkan yang terbaik, meski itu bukan hamba. Hamba hanya memohon kepadaMu untuk membantunya menggapai cita. Hamba tidak akan berani memohon untuk membuatnya cinta.
Tuhan, tidak pernah sekalipun hamba membisikkan nama lain selain keluarga di dalam doaku padaMu. Namun, hanya dia, ya Tuhan. Hanya dia yang satu-satunya hamba ingat ketika menadahkan tangan di akhir pertemuanku denganMu.

Tuhan, ini adalah kesekian kalinya air mata ini berlinang. Hamba serahkan semuanya padaMu, bantulah ia.



-Fitri Fazrika Sari-

Minggu, 25 Oktober 2015

Selaksa

Selaksa. Suatu ungkapan yang berarti sepuluh ribu atau suatu banyak yang tidak terhingga. Sekarang aku mengerti, selaksa adalah kamu.

Selaksa senyum ketika aku bertemu denganmu.
Bagaimana bisa, seorang biasa seperti kamu mampu membuatku lebih kuat di malam itu? Satu kalimat dari kamu ternyata lebih mampu memberiku kehangatan dibanding lapisan-lapisan baju yang tengah kupakai. Bercengkrama dengan jarak beberapa meter ternyata menghasilkan rasa panas di wajahku. Luar biasa. Kehadiranmu selama tujuh menit membuatku merasa lebih baik.

Dasar penjilat.
Hari ini kamu mulai menjadi sesuatu yang selalu aku bayangkan. Rasanya lucu, ketika suatu lagu mengingatkanku pada kejadian yang kita alami kemarin. Selaksa cerita. Sepertinya dua minggu pertemuan kita telah menghasilkan puluhan ribu memori di benakku. Sekali lagi, kuucapkan luar biasa. Betapa kamu merubah aku yang sebenarnya sudah muak dengan kata cinta.

Cinta?
Mengapa aku bisa mengatakan “cinta” dengan mudahnya? Padahal, sudah susah payah kutahan kata itu agar tidak terucap ke sembarang orang. Atau mungkin, kamu memang bukan orang sembarangan? Apa kini kamu telah berhasil mengorek tempat itu? Hebat, sungguh luar biasa. Kamu itu siapa, kok berani-beraninya mau masuk ke tempat istimewa yang telah lama aku kunci.

Selaksa makna.
Bukankah rasa nyaman itu selalu memiliki banyak kemungkinan? Bisa saja aku hanya menemukan teman lama yang dulu pernah hilang. Mungkin kamu adalah tipe teman yang aku cari selama ini, makanya aku selalu ngerasa nyaman di dekat kamu.
Tapi, jika itu memang seorang teman, kenapa aku harus tersipu ketika kamu memujiku? Bukankah harusnya aku menanggapinya dengan biasa saja? Juga, harusnya aku tidak perlu kesal ketika mereka berebut mencari perhatian kamu. Toh aku tidak punya alasan untuk itu. Tapi, kenapa aku merasa tersaingi ya. Ah, kamu memang luar biasa.


Aku sedang berdebat tentang selaksa rasa. Maukah kamu melihat akhirnya?

Sabtu, 12 September 2015

Sepercik Motivasi


Manusiawi kalau capek. Bahkan robot aja butuh waktu untuk diistirahatkan pemakaiannya.
Manusiawi kalau bosan. Eiffel yang segitu romantisnya aja udah dianggap biasa sama penduduk aslinya.
Manusiawi kalau iri. Setiap orang pasti punya panutan lain yang jauh lebih sukses dari dirinya sendiri.


Hidup itu pilihan. Dan, di setiap pilihan itu akan ada risiko yang harus kita jalani. Tidak jarang pula, pilihan itu mengharuskan kita untuk berkorban. Berkorban dari hal sepele hingga hal yang cukup rumit.


Aku ingin sukses. Aku ingin lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan. Aku ingin memiliki banyak sertifikat penghargaan. Aku ingin pergi keluar negeri dengan gratis. Aku ingin menjadi istri dan ibu yang bisa menjadi panutan di masa depan nanti. Aku ingin menjadi seorang yang bermanfaat untuk rakyat.
Apa yang harus aku lakukan?
Ingat, hal yang luar biasa butuh perjuangan yang jauh luar biasa.


Mungkin tadi pagi aku capek karena menyelesaikan deadline yang tidak orang lain miliki.
Mungkin tadi siang aku bosan mendengarkan mata kuliah dari dosen yang tidak mengerti cara mengajar yang menyenangkan.
Mungkin malam ini aku iri dengan mereka yang menghabiskan waktunya menikmati makan malam bersama pacar tersayang.
Tapi, haruskah aku merasa seperti itu?

Seharusnya tidak.
Aku menyelesaikan deadline yang ada agar aku bisa menambah lebih banyak lagi variasi pekerjaan yang aku punya. Kenapa harus banyak? Ya, karena aku ingin menjadi orang hebat, aku harus belajar dari banyak orang-orang hebat lainnya. Aku harus dapat menggali ilmu mereka sedalam-dalamnya. Aku harus menguatkan kemampuanku di berbagai bidang. Aku harus mempunyai sesuatu yang “lebih” dari orang-orang di sekitarku.
Aku harus semangat pergi kuliah agar mendapatkan nilai yang bagus. Bukan, nilai bukan segalanya. Memang, seharusnya proses itu lebih dihargai daripada hasil. Namun, orang tua mana yang tidak bangga jika anaknya berhasil masuk jejeran cumlaude saat wisuda nanti?
Saat ini aku memang memilih untuk makan di kamar saja. Bukannya ansos, hanya saja rasanya lebih efektif jika bisa berfikir sambil makan. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Masih banyak hal lain yang ingin aku kerjakan daripada sekadar berbagi kemesraan dengan orang lain.


Aku tidak pernah tau kenapa bisa berfikir sevisioner ini. Entah kenapa, aku kembali merenungkan apa arti hidup yang sebenarnya. Entah kenapa, rasanya aku butuh mengembangkan diriku jauh lebih tinggi lagi. Tiba-tiba aku merasa malu jika tidak berbuat sesuatu untuk kebaikan diriku sendiri dan orang lain.
Apakah kalian juga merasakan hal yang sama?

Selasa, 25 Agustus 2015

17



Orang bilang, 17 tahun adalah “batu loncat” kedewasaan seseorang. Seseorang yang menginjak usia 17 tahun dianggap mampu dan bebas buat nentuin pilihan hidupnya sendiri. Katanya sih, 17 itu umur yang istimewa. KATANYA LOH YA...

Eh ternyata benar. Titik balik kehidupanku dimulai dari sini.


Mei 2014.
Siap gak siap, aku diharuskan ngerantau ke Jogja untuk ikut les intensif persiapan SBMPTN kala itu. Belum jalan empat bulan di umurku yang ke-17, aku udah hidup sendiri. Meski gak nyampe dua bulan, rasanya aku tuh “ngesot” gitu ngejalanin hari-hari sebagai anak kos. Sediiih banget. Apa-apa harus dikerjain sendiri. Kemana-mana harus pergi sendiri.
Puncaknya waktu tes SBMPTN dan UM waktu itu. Yang lain pada diantar sama orang tuanya, banyak juga yang ditungguin sampai selesai ujian. Lah aku? Datang ke sana sendiri, makan sendiri, pulang juga sendiri. Aku ingat banget, sepulangnya dari tempat ujian, aku nangis senangis-nangisnya di jalan. Lebay gak? Lebay ya. Ya gitu deh...

Agustus 2014.
Aku balik lagi ke Jogja, tapi bukan untuk kuliah. Ya, aku gagal pada ujian tulis kemarin. Meski berat, aku yakin hal yang besar butuh pengorbanan yang gak kalah besarnya juga.
Waktu itu aku les lagi buat ikut ujian SBMPTN di tahun depan. Aku ketemu sama banyak teman yang senasib—mereka yang rela menunda waktu kuliah buat masuk di universitas atau jurusan yang mereka idamkan. Seketika aku tuh ngerasa kecil, kecil banget. Ternyata saingan untuk dapetin jatah kursi di universitas favorit tuh emang ketat. Lagi-lagi, aku berperang sama batin sendiri di enam bulan pertama umurku yang ke-17.

Desember 2014.
Puncak kejayaan buat dompetku sendiri.
Ya, aku memberanikan diri buat ikut salah satu event besar tahunan di Jogja. Aku joinan stand bareng online shop Jogja lainnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku ngerasain yang namanya kerja. Jagain stand meski pake shift ternyata berat juga. Tanggung jawab ngejaga seluruh barang yang ada selama beberapa jam tuh gak mudah. Belum lagi harus selalu ramah sama pembeli walau sebenarnya badan udah remuk.
Hampir setahun di umurku yang ke-17, aku udah punya omset jutaan rupiah yang terus naik pada bulan-bulan berikutnya.


Aku rasa, tiga momen di atas adalah hal besar yang sangat membekas buat aku.
Kalau aja tahun lalu aku udah kuliah di tempat lain, gak akan ada aku yang bisa disiplin waktu seperti sekarang. Gak akan ada aku yang berjuang mati-matian buat bangkit ngalahin ego diri sendiri. Gak akan ada aku yang segitu menghargainya kesempatan untuk bisa kuliah.
Kalau aja tahun lalu aku gak dipaksa ngerantau keluar, gak akan ada aku yang lebih mandiri seperti sekarang. Gak akan ada aku yang selalu ngabarin orang tua setiap harinya. Gak akan ada aku yang segitu menghargainya segala fasilitas yang selama ini aku dapat.
Kalau aja tahun lalu aku gak mulai usaha sendiri, gak akan ada aku yang berpikiran terbuka seperti sekarang. Gak akan ada aku yang berani ngambil setiap kesempatan yang ada. Gak akan ada aku yang segitu menghargainya apapun pekerjaan orang tersebut.

Ternyata benar, 17 adalah masa dimana aku mencari jati diri. Aku menemukan banyak sisi lain dari pribadiku sendiri, baik yang baik maupun buruk. 17 membuatku mengerti, siapa aku sebenarnya.